Kami

Tiga Sudut Pandang adalah tulisan dari tiga kepala yang memiliki cara berbeda dalam memaknai kata merangkai asa. Sudut pandang tidak untuk diperdebatkan. Semuanya hanya sebagai tumpahan rasa. Tulisan yang menjadi berharga karena ditulis dengan sepenuh jiwa walaupun itu hal yang gila..Selamat mencecap tiga rasa..dari kami yang memiliki tiga sudut pandang yang berbeda

Kembali Terjebak

Merasakan rasa ini lagi tentu adalah hal bodoh. Kembali ingin menautkan kata dengan bercengkrama walau dalam suatu layar bercahaya.

Tidak seharusnya..

Berkali-kali aku berkata..ini bukan hal yang seharusnya.

Tapi aku suka

Jadi bagaimana?

Suka dengan debaran dada

Pemilihan kata

Yah begitulah

Sesuatu yang tidak seharusnya memang biasanya tampak indah di mata..berdebar di hati..diulang lagi..diulang lagi..dan diulang lagi..

Bukankah semua sudah sepatutnya disyukuri?

Bukankah sudah ada contohnya bagaimana menjadi orang yang tak sadar diri?

Jadi tunggu apa lagi?

Entahlah..aku suka

Aku suka berbagi rasa

Padanya

Hati di ujung rindu

Entah harus bagaimana

Ketika hati diujung rindu

Mengetikkan kata juga tidak bisa

Apalagi mendengarkan suara

Biarlah rindu menjadi rasa yang mengkristal di hati

Menyesakkan dada berkali-kali

Cukup tarik nafas dalam

Dan sibukkan pikiran

Hingga rindu berlalu

Menjadi normal kembali

Mengapa AKU terjebak pada tubuhku dan kehidupanku?

Pemikiran ini sudah ada sejak aku kecil, sejak SD tepatnya. Pemikiran tentang mengapa aku. Mengapa aku menjalani hidup sebagai aku. Mengapa aku tidak tau apa yang orang lain pikirkan atau rasa. Mengapa aku berada di kehidupanku tidak pada kehidupan yang lain. Mengapa aku dimasukkan ke dalam tubuhku tidak ke tubuh orang lain.

Bahkan, aku sampai pernah berpikir, jangan-jangan aku adalah sesuatu yang spesial, jiwa yang sangat penting karena hanya aku yang bisa tau sudut pandangku. Aku tidak tau bagaimana menjadi seorang jokowi, atau menjadi seperti ariana grande, bahkan aku tidak tau bagaimana sebagai nabi muhammad, karena aku tidak terjebak di tubuh mereka. Aku diletakkan di tubuhku saat ini untuk menjalani kehidupanku, dengan sifatku, dan segala keterbatasanku. Tapi semua pemikiran itu berujung pada kata-kata ya sudahlah. Sampai aku pukul-pukul kepalaku. Stop, stop, berpikir tentang hal itu. Berpikir juga tidak akan merubah apapun. Aku tetap pada tubuhku, kehidupanku.

Sudah sejak lama aku tidak berpikir lagi tentang keakuanku. Kehidupanku seperti roda menggelinding cepat dari atas bukit. Yang tersisa hanya tanah-tanah yang menempel. Tanah-tanah yang memperberat laju roda.

Dan sampai beberapa saat lalu, entah mengapa aku ingin menulis tentang hal itu. Tentang suara-suara riuh di otakku. Suatu pikiran di masa lalu, mengapa aku terjebak pada tubuhku dan kehidupanku.

Sahabat Masa Kecilku

Sahabat Masa Kecilku

Ada dua orang berharga yang mewarnai masa kecilku. Yang pertama bernama mas parno. Selisih umurnya denganku kira-kira 20tahunan, sepantaran dengan bulik-bulikku. Rumahnya tidak jauh dari rumahku. Aku sering menghabiskan waktu dirumah keluarga besarnya, sambil melihat ayam-ayam kesayangannya. Terkadang diajarin main kartu, diajak nonton voli, makan bakso, atau sekedar nonton tv. Mas parno menjagaku, menyayangiku, seperti anaknya sendiri. Aku tidak ingat persis seperti apa tepatnya yang sudah dilakukannya kepadaku. Tapi yang masih bisa kurasa sampai sekarang, kasih sayangnya selalu meninggalkan kesan mendalam di hatiku.

Dan 9 September 2019 aku kehilangannya.

Orang kedua bernama om jito. Om jito adalah saudaraku. Rumahnya jauh dari rumahku, kira-kira butuh waktu 1,5 jam untuk kesana. Dulu, waktu kecil, kalau kesana harus pakai bis atau kereta. Ada suatu kenangan yang membuatku dekat dengannya. Ketika kmai sekeluarga main ketempatnya, aku ditinggal untuk menginap beberapa hari. Dalam beberapa hari itu, aku main ke studio fotonya, dibelikan jajan, diajak ke stasiun kecil dekat rumahnya karena memang dari rumahnya hanya tinggal jalan kaki untuk sampai ke stasiun. Selama dengannya aku merasa cantik. Aku merasa disayangi. Aku merasa berarti. Aku menyukai keceriaannya, keramahannya, dan kepribadiannya.

Dan, pada 26 Mei 2020, diapun meninggalkanku.

Kepada dua orang terkasih.

Sahabat masa kecilku

Doaku selalu menyertai..

InsyaAllah Husnul khotimah

Rindu

Ayam gongso

Hampir lima tahun dari 2004-2009
Belajar dan dituntut hidup mandiri disini
Tidak hanya teori tapi langsung praktek ilmu dari kampus saat jadi anak kos

Jatah bulanan dari orangtua yang Alhamdulillah, harus dicukup-cukupkan tiap bulannya
Transferan hanya terjadi sebulan sekali itupun diawal bulan hehehehe
Nah disinilah jiwa ekonomi kita diasah dengan sangat bagus oleh keadaan
Bagaimana semua kebutuhan tercukupi dengan pemasukan yang ada

Jadi Rindu…
Pergi ke warung beli lauk sekali tapi bisa buat makan 2-3 kali
Karena nasi putihnya kami masak sendiri bergantian piketan di kos
Tapi kok dulu kami biasa saja ya???
Meskipun kalau diinget sekarang,kok ya “mesakke” banget ya hehehe

Menu di seputaran kos kami beranekaragam
Dengan harga yg bisa menyesuaikan tanggal hehehe
Ada satu menu favorit hampir semua penghuni kos
Selain rasanya enak, harganya murah, porsinya juga oke karena bisa buat 2-3 kali makan
Menu dengan Bahan dasar Ayam ini jadi salah satu menu wajib kami minimal sebulan sekali

Ayam direbus atau digoreng tidak tidak terlalu kering kemudian disuwir
Bumbu ulek Bawang merah putih,kemiri dan cabe rawit di goreng sampai harumnya keluar
Garam,gula, merica bubuk dan kecap manis masuk untuk kemudian dites rasa
Potongan sawi hijau atau kol bsa jadi pelengkap sempurna setelah bersatu dengan bumbu dan ayam suwirnya

Ya dialah si GONGSO AYAM
makanan yang aku kenal pertama kali di Kota Atlas
Ah Rindunya…

<qkejora, 19042020>

Nanar

Part 1 (pikiran)

Hampir fajar, aku masih terjaga, dongeng tentang sang putri yang tertidur setelah memakan apel dari sang penyihir tak lagi membuatku terlena, cerita anak tiri meninggalkan sepatu kaca disuatu pesta tak juga berguna, aku bosan, dengan plot yang selalu sama, putri teraniaya, kemudian bertemu pangeran gagah baik hatinya, lalu bahagia hingga tua. Sungguh jika feminis benar-benar peka, seharusnya mereka tersindir dengan semua dongeng menjelang tidur yang selalu mengeksploitasi wanita, kita dicekoki hal itu setiap malam menjelang tidur setiap harinya. Tak adakah cerita tentang petani-lelaki yang mencoba hidup sejahtera tapi keburu mati tertabrak kereta atau pemuda miskin yang melakukan segala cara mendekati sang ratu yang janda demi harta dan kuasa tapi dicerai karena tak kunjung bisa memberi benih untuk pewaris tahta??!

Part 2 (jiwa)

Belum juga terpejam, bukan lagi tentang dongeng penghantar tidur yang aku pikirkan, otakku bekerja lebih keras pagi ini, semacam mengkonversi bentuk jalan yang baru. Entahlah karena acapkali saya limbung jika harus menapaki kembali perjalanan ini. Lintasan berliku panjang dan kaca pandang penuh paradoks ditambah banyaknya rambu-rambu bias, yakin saja bahwa semua tetap tak bisa mengandalkan pengalaman berpuluh tahun menjadi pengendara lintas, apalagi hanya bermodal surat ijin mengemudi hasil menyisipkan beberapa lembar uang dalam tumpukan berkas. Sebetulnya sederhana, bahwa seperti semua bentuk perjalanan, pada akhirnya tujuanlah yang menjadi sebuah pencapaian, hanya tentang dimana dan kapan. Tapi apakah memaknai setiap langkah dalam sebuah perjalanan bukan lagi bentuk idealisme?

Part 3 (raga)

Pagi ini aku kembali terjaga, tiba-tiba saja aku menjadi pedagang manekin, urusan boneka-model-pajang ini ternyata rumit juga. Meski manekin berbadan langsing nan panjang semacam yoona SNSD tipe kesukaanku, nyatanya tetap harus punya persediaan yang bertubuh padat berisi seperti kebanyakan fantasi suami kepada sang istri. Kekagumanku pada sosok dengan permukaan gelap layaknya salma hayek atau halle berry juga diimbangi dengan boneka berkulit khas ras aria dengan rambut pirang-kalau bisa bermata biru kesukaan kebanyakan orang dari negriku. Sungguh perihal manekin ini ternyata tak pernah sesederhana apa yang sebelumnya aku kira, seleraku harus berhadapan dengan kemauan pasar pada umumnya, hasil cuci otak iklan produk kosmetik bahwa cantik itu harus berkulit putih halus persis hasil blasteran jawa-belanda.

Part 4 (ingatan)

Badanku panas, tangan bergetar, gigi gemeretak tak terkontrol, aku menulis ini dalam rasa payah yang hebat. Ingatan-ingatan tentang kegagalanku belakangan kembali menyeruak memenuhi otak, aku terhimpit, sesak. Sambil menulis sesekali ku buka gallery di telpon genggam, ku geser layarnya terus-menerus, penuh dengan foto gadis berkerudung santun bertahi lalat, tersenyum menghadapku. “aku yang akan meredakan demammu, menenangkan tubuhmu dan menghangatkan hatimu”, begitu lamat-lamat dia berucap. Jangan tertawa atau mengira aku mengidap schizophrenia, sudah berulang kali aku kunci-buka lagi telponku, tapi tetap saja dia selalu mengulangi apa yang baru saja dia lakukan, persis seperti iklan pendek di tv. Ini aneh!

Part 5 (selesai)

Ada hamparan luas awan putih, berangkai seperti kembang gula kapas, melayang aku diatasnya, awan itu kugamit sesekali kucicipi, hambar, melempem, persis seperti ribuan cerita yang mendadak janggal hanya karena berbeda waktu, begitulah semesta mengajaibkan tidur kataku. Cemas, bimbang, pilu hingga bahagia ternyata mengering bersama air liur kita, berangsur samar hingga tersisa goresan kecil, ternyata terjaga justru membuat kita tak bisa menjaga, sistem tak bisa direset semudah memutar pena di lubang kaset, meski ada banyak tulisan menjelaskan tidur, entah banyak organ diistirahatkan, jiwa yang diselaraskan atau apa saja para ahli itu menjabarkan. Nyatanya hanya untuk berapa kali kita lupa, meminta perlindungan ketika hendak menutup mata atau berterima kasih kembali saat terbangun dipagi harinya.

Empat bagian pertama tulisan ini aku buat empat tahun lalu, sebuah peristiwa membuat semua cara bagiku untuk tidur mendadak begitu rumit, lalu bagian kelimanya ditulis tahun ini (2020), tiba-tiba membayangkan apa yang empat tahun lalu aku alami sedikit menggelitik, apapun namanya, ternyata begitu cara waktu memperbaikiku, dari Tuhan, kemudian selesai.

<nara-niri>